Puslit Metrologi-LIPI Kembali Mendapat Penambahan Jumlah Pengakuan Internasional Untuk Kemampuan Pengukuran Dan Kalibrasi (CMC) Suhu

CMC Suhu 01

CMC Suhu 01Tangerang Selatan – Puslit Metrologi-LIPI telah memperoleh penambahan jumlah pengakuan Internasional yang cukup signifikan untuk Kemampuan Pengukuran dan Kalibrasi atau Calibration and Measurement Capability (CMC). Pada tanggal 17 April 2018, sebanyak 24 nilai CMC baru terkait pengukuran dan kalibrasi suhu telah diterbitkan di laman Biro Internationale des Poids et Mesures, BIPM (www.bipm.org) dalam Appendix C dari Key Comparison Database (www.bipm.org/kcdb). Nilai-nilai CMC baru tersebut antara lain terkait lingkup-lingkup pengukuran dan kalibrasi Titik Tripel Air, Noble-Metal Thermocouple, TermometerGelas, danTermometerDigital.

Perjuangan untuk memperoleh pengakuan internasional ini tidaklah mudah, ada banyak proses yang harus dilalui sebelumnya. Keberhasilan dalam mengikuti kegiatan uji banding antar Pengelola TeknisIlmiah Standar Nasional Satuan Ukuran (SNSU) atau sering disebut sebagai kegiatan Interlaboratory Comparison (ILC) adalah langkah awal untuk memperoleh pengakuan tersebut. Untuk memperoleh 24 pengakuan internasional ini, Puslit Metrologi-LIPI telah mengikuti kegiatan ILC antar negara-negara Asia Pasifik (APMP) dengan hasil memuaskan dan berkesesuaian dengan hasil ILC tingkat internasional. Berikut adalah daftar kegiatan ILC tersebut:

  1. ILC Regional APMP untuk pengukuran Titik Tripel Air tahun 2007-2009, dengan nomor kegiatan APMP.T-K7 yang berkesesuaian dengan ILC Internasional CCT-K7;
  2. ILC Regional APMP untuk perbandingan hasil kalibrasi Industrial Platinum Resistance Thermometer (IPRT) tahun 2009, dengan nomor kegiatan APMP.T-S6, dan
  3. ILC Bilateral dengan Pengelola Teknis Ilmiah SNSU Korea (KRISS) untuk perbandingan Sel Titik Tetap Merkuri, Galium, Timah, dan Seng tahun 2011-2013, dengan nomor kegiatan APMP.T-K3.4 yang berkesesuaian dengan ILC Internasional CCT-K3. Hasil dari kegiatan-kegiatan ILC ini telah dipublikasikan di Metrologia, Volume 53 (2016) dan 54 (2017), bagian Technical Supplement.

CMC Suhu 02Selanjutnya, serangkaian proses evaluasi lapangan (Peer Evaluation) dan dokumen di tingkat internasional juga harus dilewati. Proses Peer Evaluation untuk menunjukkan kompetensi teknis lab terkait nilai-nilai CMC baru yang diajukan telah berhasil dilewati. Pada tahun 2015, dua orang tenaga ahli dari the National Metrology Institute of Japan (NMIJ) yang terdiri dari Y. Yamada dan K. Yamazawa telah mengevaluasi lingkup-lingkup yang diajukan. Kemudian, proses evaluasi dokumen CMC di tingkat Asia Pasifik (APMP) dan juga di tingkat internasional yang melibatkan Regional Metrology Organizations (RMOs) negara-negara Eropa (Euramet) juga telah berhasil dilewati, hingga pada akhirnya nilai-nilai CMC yang diajukan tersebut dapat diakui oleh dunia internasional dan berhak masuk dalam daftarAppendix C.

Banyak dampak positif yang dapat diperoleh dari penambahan jumlah CMCini. Sebagai salah satu contohnya adalah di sektor ekspor udang Indonesia ke UniEropa. Untuk dapat melakukan ekspor produk tersebut, ada persyaratan spesifikasi teknis terkait implementasi sistem manajemen keamanan pangan berdasarkan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) yang harus dipenuhi. Setiap produk pangan yang masuk pasar Uni Eropa harus dapat menunjukkan sertifikasi keamanan pangannya sesuai dengan sistem HACCP. Standar kesehatan udang salah satunya yang diatur dalam regulasi (EC) No. 2073/2005. Terkait standar kesehatan udang, tentunya kita masih ingat akan kejadian penolakan ekspor udang beku Indonesia oleh Food and Drug Administration (FDA), Amerika pada tahun 2015 yang menyebabkan kerugian negara hingga $US 1.35 miliar. Salah satu hal yang menyebabkan penolakan tersebut adalah karena ditemukannya kontaminasi mikrobiologis di dalam udang beku yang diekspor Indonesia ke Amerika.

CMC Suhu 03Kontaminasi mikrobiologis pada udang beku salah satunya disebabkan karena fluktuasi suhu yang terjadi ketika proses pengemasan, penyimpanan dan pengolahannya, sehingga pada setiap proses ini harus dipastikan bahwa suhunya dapat direkam dan dijaga dalam ambang batas tertentu. Mikroba Salmonella sangat mudah berkembang biak jika suhu inti udang ≥ 5 ˚C, sehingga untuk memastikan bahwa suhu inti udang selalu < 5 ˚C, didalam persyaratan sistem HACCP dinyatakan bahwa suhu tempat penyimpanan udang nilainya harus selalu ≤ – 18 ˚C. Untuk memastikan bahwa pembacaan suhu sudah benar, maka termometer yang digunakan untuk mengukur suhu harus sudah terkalibrasi terhadap standar metrologi yang tertelusur ke Sistem Satuan Internasional (SI).

Sebelum mendapatkan penambahan jumlah pengakuan, CMC lingkup suhu Puslit Metrologi-LIPI yang telah diakui secara internasional hanya mencakup rentang suhu 0 – 1500 ˚C. Kebutuhan akan ketertelusuran metrologi untuk termometer yang digunakan untuk mengukur suhu tempat penyimpanan udang praktis harus diperoleh dari luar negeri. Sekarang, dengan adanya penambahan jumlah pengakuan, CMC lingkup suhu Puslit Metrologi-LIPI yang telah diakui secara internasional mencakup rentang yang lebih lebar, yaitu -30 – 1500 ˚C. Ketertelusuran metrologi yang awalnya harus diperoleh dari luar negeri, sekarang bisa diperoleh dari dalam negeri menggunakan standar-standar nasional yang dipelihara di Puslit Metrologi-LIPI. Validitas hasil pengukuran suhu tempat penyimpanan udang yang diperoleh menggunakan termometer yang tertelusur ke SI melalui PuslitMetrologi-LIPI menjadi tidak diragukan lagi kebenarannya karena standara cuan yang digunakan untuk mengkalibrasi termometer di negara tujuan ekspormemiliki kesetaraan (ekuivalen) dengan standar nasional yang dimiliki oleh Indonesia sesuai dengan skema the CIPM Mutual Recognition Arrangement (CIPM-MRA). Hingga pada akhirnya, efisiensi waktu dan biaya dalam memperoleh ketertelusuran metrologiakan dapat diperoleh.

CIPM-MRA adalah skema perjanjian saling pengakuan antar Pengelola Teknis Ilmiah SNSU terkait standar ukur dan sertifikat kalibrasi yang mereka terbitkan untuk lingkupnya yang telah masuk dalam daftarAppendix C. Puslit Metrologi-LIPI saat ini dalam proses berkelanjutan untuk meningkatkan jumlah CMC yang masuk dalam daftarAppendix C. Partisipasi dalam berbagai kegiatan APMP dan ILC hingga saat ini terus digiatkan, sehingga jumlah CMC yang ada di Appendix C diharapkan akan terus bertambah.