Pengakuan Internasional atas Kemampuan Pengukuran (CMC) Pertama untuk Indonesia di Bidang Metrologi Kimia

Pengakuan Internasional Metrologi Kimia 01

Di tahun 2018 ini, Indonesia untuk pertama kalinya telah memperoleh pengakuan internasional atas kemampuan pengukuran (Calibration and Measurement Capability – CMC) di bidang metrology kimia. Pada akhir tahun 2017, Laboratorium analisis organik dan Laboratorium Elektrokimia yang berada di bawah Sub Bidang Metrologi Kimia mengajukan CMC untuk pertama kalinya melalui Asia Pasific Metrology Programme (APMP) yang merupakan Regional Metrology Organization (RMO) di kawasan Asia Pasifik. Ruang lingkup yang diajukan adalah untuk pengukuran kadar pengawet asam benzoat, metil paraben dan n-butyl paraben di dalam matriks air, minuman dan kondimen serta untuk larutan buffer pH 4. Setelah melewati review di tingkat regional dan internasional, pengajuan sejumlah empat (4) CMC tersebut pada akhirnya disetujui dan telah diterbitkan di laman Bureau International des Poids & Mesures, BIPM dalam Appendic C dari Key Comparison Database (www.bipm.org/kcdb), pada tanggal 26 September 2018.

Perjalanan memperoleh pengakuan internasional ini cukup panjang yaitu dimulai sejak tahun 2000, dimana Laboratorium Kimia Analitik, Pusat Penelitian Kimia – LIPI yang menjadi awal terbentuknya laboratorium Metrologi Kimia, telah aktif mengikuti kegiatan pelatihan, simposium dan workshop yang dikoordinasikan oleh Asia Pasific Metrologi ProgrammeTechnical Committee on Amount of Substance (APMP – TCQM). Selain itu juga mulai aktif mengikuti kegiatan uji banding baik itu Proficiency testing maupun pilot study yang diselenggarakan oleh APMP. Pada Tahun 2007, berdasarkan Keputusan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Nomor 237/M/2007, Pusat Penelitian Kimia – LIPI kemudian ditunjuk sebagai PENGELOLA TEKNIS ILMIAH STANDAR NASIONAL UNTUK SATUAN UKURAN di bidang Kimia. Selanjutnya pada tahun 2009, dalam rangka memperoleh pengakuan internasional, Puslit Kimia LIPI menjadi anggota APMP dan menjadi Designated Institute (DI) bidang metrologi kimia atas rekomendasi Puslit Metrologi LIPI sebagai Lembaga Metrologi Nasional. Pada kegiatan APMP General Asembly (GA) ke 25 yang diselenggarakan di Malaysia (17 dan 18 Desember 2009), Indonesia secara resmi diperkenalkan sebagai anggota baru di APMP. Setelah resmi tercatat menjadi anggota APMP, Laboratorium Metrologi Kimia kemudian dapat mengikuti kegiatan uji banding yang biasa disebut sebagai Key Comparison atau Supplementary Comparison baik di level regional maupun internasional, sebagai syarat utama untuk mengajukan CMCs.

Pada tahun 2015, Laboratorium Metrologi Kimia telah mengikuti kegiatan uji banding Key Comparison APMP.QM-K91 “pH measurement of Phtalate Buffer” and Supplementary Comparison APMP.QM-S8 “Determination of Mass Fraction of Benzoic Acid, Methyl Paraben and n-Butyl Paraben in Soy Sauce”. Kemudian di tahun 2016, laporan hasil dari uji banding tersebut telah dikirimkan kepada negara-negara peserta uji banding dan Indonesia memperoleh hasil yang memuaskan. Hasil dari kegiatan uji banding ini telah dipublikasikan di Jurnal Metrologia. Untuk dapat mengajukan CMCs di lingkup pengukuran pH 4 dan juga pengawet dalam kondimen, terlebih dahulu harus dilakukan proses peer review atau proses evaluasi terhadap kemampuan pengukuran di lingkup tersebut. Sehingga, pada tanggal 7 – 8 Maret 2016 dilakukan kegiatan Peer Review yang merupakan proses evaluasi di lapangan untuk lingkup teknis maupun sistem mutu yang telah diimplementasikan. Peer Reviewer untuk bidang teknis elektrokimia (pengukuran pH) dan organik (Pengawet dalam kondimen) merupakan para ahli di bidang masing-masing yang berasal dari Lembaga Metrologi Nasional Jepang (National Metrology Institute of Japan, NMIJ) yaitu Dr. Igor Maksimov dan dari Lembaga Metrologi Nasional Republik Korea (Korea Research Institute of Standard and Sciences, KRISS) yaitu Dr. Byungjoo Kim.

Pengakuan Internasional Metrologi Kimia 01Setelah dilakukan proses Peer Review dan penyelesaian tindakan perbaikan atas temuan-temuan yang di dapatkan pada proses tersebut, kemudian pada akhir tahun 2017, Laboratorium Metrologi Kimia yang per tahun 2017 dipindahkan dari Pusat Penelitian Kimia – LIPI ke Pusat Penelitian Metrologi – LIPI, mengajukan permohonan CMCs untuk pertama kalinya ke APMP. Tahap selanjutnya yang harus dilalui adalah proses review dokumen pengajuan CMC baik di tingkat regional Asia Pasifik dan juga di tingkat internasional yang melibatkan reviewer dari RMO lain. Dari hasil review tersebut, terdapat beberapa pertanyaan serta rekomendasi dari beberapa reviewer yang perlu segera diklarifikasi. Hingga pada akhirnya, setelah klarifikasi diterima, pengajuan CMCs pertama di bidang metrologi kimia disetujui dan saat ini telah dipublikasikan di website BIPM.

Pengakuan Internasional Metrologi Kimia 02

Capaian ini sangat berarti bagi tim metrologi kimia khususnya untuk kemudian dapat semakin meningkatkan kemampuan pengukurannya di bidang kimia dan mendiseminasikan kemampuan pengukuran ini melalui penyediaan: Certified Reference Materials (CRMs) sebagai sumber ketertelusuran pengukuran di bidang kimia, dan pemberian assigned value untuk Proficiency Test Material (PT material). Bentuk diseminasi tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh laboratorium-laboratorium pengujian di Indonesia untuk meningkatkan validitas hasil pengujiannya khususnya utuk saat ini di bidang pengukuran pH dan pengawet dalam makanan. Saat ini CRM untuk buffer phthalate dan CRM matriks untuk pengujian kadar pengawet dalam kecap telah dapat dibuat di Laboratorium Metrologi Kimia, sehingga dapat dengan mudah diperoleh di dalam negeri. Selain itu juga skema Uji Profisiensi untuk kedua lingkup pengukuran tersebut telah dilaksanakan dan diikuti oleh laboratorium-laboratorium pengujian baik dari instansi pemerintah, swasta dan juga produsen kecap di Indonesia serta beberapa instansi dari Myanmar, Thailand dan Fiilipina.

Laboratorium Metrologi Kimia yang saat ini masih fokus meningkatkan kemampuan teknis pengukuran di bidang lingkungan dan pangan akan terus berupaya menambah jumlah CMCs di daftar Appendix C CIPM Mutual Recognitian Arrangement, sehingga pada akhirnya diharapkan dapat mendukung kemajuan pada sektor perdagangan baik di level nasional maupun internasional, memberikan kontribusi positif bagi pembuatan regulasi dan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.